Pertama
kali aku merasakan gempa adalah saat duduk di kelas dua SD. Malam itu di daerah
tempat tinggalku ada warga yang rumahnya kemalingan. Kejadian itu menimbulkan
kepanikan warga, mereka mencari ke sawah, ke kebun, hingga keselokan tapi
hasilnya nihil. Lalu aku mendengar celetukan seorang warga, jangan-jangan
malingnya punya ilmu hitam. Kebetulan saat itu lagi rame-ramenya kolor ijo.
Entah apa hubungannya maling sama kolor ijo. Mendengar nama kolor ijo , aku
langsung lari ke kamar dan duduk meringkuk diatas kasur karena ketakutan. Tiba-tiba
tempat tidurku bergetar dan kemudian bergoyang-goyang. Aku kaget dan langsung
berfikir, jangan-jangan kolor ijonya ada dibawah tempat tidurku. Jangan-jangan
kolor ijonya mau perkosa aku. Dengan penuh keberanian aku menengok kebawah
tempat tidur dengan meniru gaya pemain film horor. Tiba-tiba pintu kamarku di
dorong keras oleh mamaku yang sedang kepanikan. “Kamu ngapain sih latihan salto
waktu lagi gempa gini” Saat itu aku sadar ternyata tempat tidur aku goyang
bukan karena kolor ijo tapi gara-gara gempa.
Gempa
kedua yang aku rasakan adalah saat aku kelas lima SD. Pagi itu kelas kami
sedang ulangan IPA dilantai dua, anak-anak cowok udah panik karena gak ada yang
belajar. Sampai ada yang tarik-tarik jilbab aku nanyain jawaban. Aku pakai jurus
belagak budek dan tetap mengerjakan ulangan. Tiba-tiba meja kami semua bergerak
dan bangunan sekolah seperti berayun-ayun. Saking kuatnya gempa itu bisa
mindahin meja guru disudut ruangan sampai kedepan pintu. Kita semua panik dan
langsung berhamburan menuju tangga, tapi anak-anak cowok masih sempat-sempatnya
nyontek lembar jawaban cewek-cewek yang udah pada lari. Mereka memang greget. Bu
guru membimbing kami ke lapangan sekolah. Situasi mendadak mencekam, saat kami melihat
bangunan sekolah yang menganga. Semua temanku panik, ada yang memeluk ibu guru,
ada yang menelpon orang tuanya minta dijemput, ada yang nangis sambil teriak
“kita semua akan mati” Ternyata aku bukan satu-satunya korban sinetron.
Setelah
dirasa agak aman, sekolah akhirnya mengijinkan kami untuk pulang, aku pun
pulang berjalan kaki bersama dua orang temanku. Sepanjang perjalanan kami melihat
bangunan-bangunan pecinan yang konon sudah ada dari jaman belanda, semuanya
runtuh. Di sebelah bangunan yang runtuh itu,kami melihat Tiang listrik roboh
menimpa sebuah mobil yang sedang parkir. Bunyi ambulan dan pemadam kebakaran memekakkan
telinga. Rasanya aku ingin cepat sampai
dirumah, mudah-mudahan rumahku tidak roboh. Sesampai dirumah syukurlah tak ada yang rusak
bahkan retak. Rumahku terbilang cukup kokoh karena dindingnya dilapisi kawat
besi. Malamnya semua orang tidak ada yang berani tidur di dalam rumah. Dengan alasan keselamatan,akhirnya warga
memutuskan untuk tidur di jalan, saat itu jalanan ditutup dan para pemuda ronda
sambil bernyanyi-nyanyi menghilangkan keresahan. Teman-temanku menjemput aku
kerumah dan kita benar-benar tidur di jalan. Bagi aku saat itu rasanya kaya
lagi sleep over party. Dimana kita tidur bareng-bareng dijalan sambil liat
langit, semua ketakutan yang dirasakan saat gempa tadi langsung hilang. Entah
kenapa aku merasa situasinya sangat menyenangkan. Kejadian itu malah menjadi
memori yang indah untuk dikenang.
Semenjak
gempa besar itu aku mulai parno ke kamar mandi. Soalnya dari kamar mandi ke
pintu depan itu lumayan jauh. Ketakutan terbesar aku adalah ketika lagi mandi
dan tiba-tiba ada gempa, aku gak kebayang aja lari keluar rumah cuma pakai
handuk. Jadilah aku sampai sekarang,
punya kebiasaan mandi super kilat. Dan aku jadi suka ngebayangin yang aneh-aneh
seperti gunung meletus, tsunami, puting beliung. Padahal daerah tempat
tinggalku gak ada gunung yang aktif dan laut pun jauh banget, dan hal ini diperparah
dengan ramalan mama lauren yang bilang kalau tahun 2012 dunia akan kiamat. Padahal pada tahun 2012 umur aku baru 16 tahun. Itu berarti aku gak
bakalan ngerasain sweet seventeen, apa bener hidup aku sesingkat itu. Eh gak
lama setelah itu malah dia yang meninggal, pantesan dia gak bisa liat masa
depan. Pokoknya masa kecil aku tuh penuh dengan kepanikan dan kecemasan.
Bagi
kita yang tinggal di Sumatera Barat gempa udah kayak makanan tahunan, setiap
tahun pasti selalu ada gempa. Sampai aku tinggal di Bali pun aku masih cemas kalau
ada berita gempa di Sumatera Barat, aku pasti langsung telpon mama.
Yang
punya pengalaman sewaktu gempa, share dong. :D